Halaman Blog

Rabu, 16 Februari 2011

KEJAWEN “Permata” Asli Bumi Nusantara yang Selalu Dicurigai Dan Dikambinghitamkan

Kearifan Lokal yang Selalu Dicurigai

Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan upaya...-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini.

Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial,  pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili santrinya, dst.

 Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”.

Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb;

Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.

Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf.

Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat  mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta.  Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam.

Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan.

Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja,  sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst.

Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.


Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati

Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, serat, babad, yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau penulisnya, mewarnai seluruh isi teks.

Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat.

Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas  pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.

Dua Ancaman Besar dalam Ajaran Kejawen

Dalam ajaran kejawen, terdapat dua bentuk ancaman besar yang mendasari sikap kewaspadaan (eling lan waspada), karena dapat menghancurkan kaidah-kaidah kemanusiaan, yakni; hawanepsu dan pamrih. Manusia harus mampu meredam hawa nafsu atau nutupi babahan hawa sanga. Yakni mengontrol nafsu-nafsunya yang muncul dari sembilan unsur yang terdapat dalam diri manusia, dan melepas pamrihnya.
Dalam perspektif kaidah Jawa, nafsu-nafsu merupakan perasaan kasar karena menggagalkan kontrol diri manusia, membelenggu, serta buta pada dunia lahir maupun batin. Nafsu akan memperlemah manusia karena menjadi sumber yang memboroskan kekuatan-kekuatan batin tanpa ada gunanya. Lebih lanjut, menurut kaidah Jawa nafsu akan lebih berbahaya karena mampu menutup akal budi. Sehingga manusia yang menuruti hawa nafsu tidak lagi menuruti akal budinya (budi pekerti). Manusia demikian tidak dapat mengembangkan segi-segi halusnya, manusia semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik, ketegangan, dan merusak ketrentaman yang mengganggu stabilitas kebangsaan

NAFSU

Hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) secara kejawen diungkapkan dalam bentuk akronim, yakni apa yang disebut M5 atau malima; madat, madon, maling, mangan, main; mabuk-mabukan, main perempuan, mencuri, makan, berjudi. Untuk meredam nafsu malima, manusia Jawa melakukan laku tapa atau “puasa”. Misalnya; tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.
Tapa brata ; sikap perbuatan seseorang yang selalu menahan/puasa hawa nafsu yang berasal dari lima indra. Nafsu angkara yang buruk yakni lauwamah, amarah, supiyah.

Tapa ngrame; adalah watak untuk giat membantu, menolong sesama tetapi “sepi” dalam nafsu pamrih yakni golek butuhe dewe.

Tapa mendhem; adalah mengubur nafsu riak, takabur, sombong, suka pamer, pamrih. Semua sifat buruk dikubur dalam-dalam, termasuk “mengubur” amal kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, dari benak ingatan kita sendiri. Manusia suci adalah mereka yang tidak ingat lagi apa saja amal kebaikan yang pernah dilakukan pada orang lain, sebaliknya selalu ingat semua kejahatan yg pernah dilakukannya.

Tapa ngeli, yakni menghanyutkan diri ke dalam arus “aliran air sungai Dzat”, yakni mengikuti kehendak Gusti Maha Wisesa. “Aliran air” milik Tuhan, seumpama air sungai yang mengalir menyusuri sungai, mengikuti irama alam, lekuk dan kelok sungai, yang merupakan wujud bahasa “kebijaksanaan” alam. Maka manusia tersebut akan sampai pada muara samudra kabegjan atau keberuntungan. Berbeda dengan “aliran air” bah, yang menuruti kehendak nafsu akan berakhir celaka, karena air bah menerjang wewaler kaidah tata krama, menghempas “perahu nelayan”, menerjang “pepohonan”, dan menghancurkan “daratan”.

PAMRIH

     Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi manusia. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois. Pamrih, mengabaikan kepentingan orang lain dan masyarakat. Secara sosiologis, pamrih itu mengacaukan (chaos) karena tindakannya tidak menghiraukan keselarasan sosial lingkungannya.  Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, kerana pamrih mengunggulkan secara mutlak keakuannya sendiri (istilahnya Freud; ego).

Karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber kekuatan batin. Dalam kaca mata Jawa, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci. Pamrih mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi, dengan demikian manusia mengikat dirinya sendiri dengan dunia luar sehingga manusia tidak sanggup lagi untuk memusatkan batin dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pula, pamrih menjadi faktor penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” kawula gusti.

Pamrih itu seperti apa, tidak setiap orang mampu mengindentifikasi. Kadang orang dengan mudah mengartikan pamrih itu, tetapi secara tidak sadar terjebak oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk melakukan pembenaran atas segala tindakannya. Untuk itu penting Sabdalangit kemukakan bentuk-bentuk pamrih yang dibagi dalam tiga bentuk nafsu dalam perspektif KEJAWEN :

   1. Nafsu selalu ingin menjadi orang pertama, yakni; nafsu golek menange dhewe; selalu ingin menangnya sendiri.
   2. Nafsu selalu menganggap dirinya selalu benar; nafsu golek benere dhewe.
   3. Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri; nafsu golek butuhe dhewe. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung. Misalnya mumpung berkuasa, lantas melakukan korupsi, tanpa peduli dengan nasib orang lain yang tertindas.


Untuk menjaga kaidah-kaidah manusia supaya tetap teguh dalam menjaga kesucian raga dan jiwanya, dikenal di dalam falsafah dan ajaran Jawa sebagai lakutama, perilaku hidup yang utama. Sembah merupakan salah satu bentuk lakutama, sebagaimana di tulis oleh pujangga masyhur (tahun 1811-1880-an) dan pengusaha sukses, yang sekaligus Ratu Gung Binatara terkenal karena sakti mandraguna, yakni Gusti Mangkunegoro IV dalam kitab Wedhatama (weda=perilaku, tama=utama) mengemukakan sistematika yang runtut dan teratur dari yang rendah ke tingkatan tertinggi, yakni 

catur sembah; sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Catur sembah ini senada dengan nafsul mutmainah (ajaran Islam) yang digunakan untuk meraih ma’rifatullah, nggayuh jumbuhing kawula Gusti. Apabila seseorang dapat menjalani secara runtut catur sembah hingga mencapai sembah yang paling tinggi, niscaya siapapun akan mendapatkan anugerah agung menjadi manusia linuwih, atas berkat kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, tidak tergantung apa agamanya.

15 komentar:

  1. WIRID WOLUNG PANGKAT #1

    Kepercayaan Jawa yang asli menyatakan bahwa Dzat Tuhan yang disebut dengan Sang Hyang Wenang (Sang Hyang Wisesa, Sang Hyang Widdhiwasa, Hyang Agung) adalah “tan kena kinayangapa” artinya tidak bisa dibayangkan dengan akal, rasa, dan daya spiritual manusia. Namun ada dan menciptakan jagad seisinya dari antiga (telur, wiji/benih) di alam suwung. Penciptaannya dengan meremas (membanting) antiga tersebut hingga tercipta tiga hal :
    Langit dan bumi (alam semesta).
    Teja dan cahya, teja merupakan cahaya yang tidak bisa diindera sedangkan cahya merupakan cahaya yang bisa diindera.
    Manikmaya, yaitu “Dzat Urip” atau “Sejatining Urip” (Kesejatian Hidup, Suksma, Roh).
    Ketiganya masing-masing merupakan derivate (turunan, emanasi, pancaran, tajali, titah) Tuhan. Melingkupi seluruh semesta yang tiada batas ini.

    Menurut Kejawen (Mitologi Jawa), maka seluruh semesta seisinya adalah ciptaan Sang Hyang Wisesa di dalam haribaan-Nya sendiri. Artinya, Tuhan murba wasesa (melingkupi dan memuat serta menguasai dan mengatur) seluruh semesta yang luasnya tiada batas dan seluruh isinya.

    Di dalam kesemestaan tersebut ada materi (bumi dan langit), ada sinar dan medan kosmis (teja dan cahya), dan ada Dzat Urip (Manikmaya, Sejatining Urip, Kesejatian Hidup) sebagai derivate (emanasi, pancaran, tajali) Dzat Tuhan.
    Dalam Kejawen, Dzat Tuhan “tan kena kinayangapa”, yang mampu dihampiri akal, rasa dan daya sepiritual (kebatinan) adalah Dzat Urip, yang kemudian disebut : Pangeran, Gusti, atau Ingsun. Keterangan tentang hal itu bisa disimak lewat wejangan pertama dalam “wirid wolung pangkat ” sebagai berikut :

    Wejangan pituduh wahananing Pangeran :
    Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhihin iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun sajatining kang urip luwih suci, anartani warna, aran, lan pakartining-Sun (dzat, sipat, asma, afngal).

    Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

    Ajaran petunjuk keberadaan Pangeran (Dzat Urip) :
    Sesungguhnya tidak ada apa-apa, sejak masih awang-uwung (suwung, alam hampa) belum ada suatu apapun, yang ada pertama kali adalah Ingsun, tidak ada Pangeran kecuali Aku (Ingsun) sejatinya hidup yang lebih suci, mewakili pancaran dzat, sifat, asma dan afngal-Ku (Ingsun).

    Selanjutnya, marilah kita renungkan kesemestaan yang ada. Maka sungguh Maha Sempurna Tuhan yang telah menciptakan semesta ini. Luasnya tiada terhingga dan semuanya teratur, selaras, dan sempurna. Disebut dalam mitologi Jawa, bahwa semesta tercipta dalam keadaan hayu (elok, indah, selaras dan sempurna).

    Dalam tata semesta yang hayu tadi, bisa kita sadari kalau planet bumi yang kita tempati hanya bagian yang sangat kecil dari kesemestaan alam ciptaan Tuhan. Manusia hanyalah salah satu titah dumadi (mahluk hidup) yang ditempatkan di planet bumi bersama milyaran titah dumadi lainnya. Semua titah dumadi disemayami dzat urip sebagai derivate dzat Tuhan. Kiranya bisa disimak wejangan kedua “wirid 8 pangkat Kejawen” sebagai berikut :

    [ post berikutnya ]

    BalasHapus
  2. Wejangan pambuka kahananing Pangeran :
    Satuhune Ingsun Pangeran Sejati, lan kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi ana padha sanalika saka karsa lan pepesthening-Sun, ing kono kanyatahane gumelaring karsa lan pakartining-Sun kang dadi pratandha:
    Kang dhihin, Ingsun gumana ing dalem alam awang-uwung kang tanpa wiwitan tanpa wekasan, iya iku alaming-Sun kang maksih piningit.
    Kapindho, Ingsun anganakake cahya minangka panuksmaning-Sun dumunung ana ing alam pasenedaning-Sun.
    Kaping telu, Ingsun anganakake wawayangan minangka panuksma lan rahsaning-Sun, dumunung ana ing alam pambabaring wiji.
    Kaping pat, Ingsun anganakake suksma minangka dadi pratandha kauripaning-Sun, dumunung ana alaming herah.
    Kaping lima, Ingsun anganakake angen-angen kang uga dadi warnaning-Sun ana ing sajerone alam kang lagi kena kaupamakake.
    Kaping enem, Ingsun anganakake budi kang minangka kanyatahan pencaring angen-angen kang dumunung ana ing sajerone alaming badan alus.
    Kaping pitu, Ingsun anggelar warana (tabir) kang minangka kakandhangan paserenaning-Sun. Kasebut nem prakara ing ndhuwur mau tumitah ing donya, yaiku
    Sajatining Manungsa.

    Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

    Ajaran membuka pemahaman keadaan Pangeran :
    Sesungguhnya Aku adalah Pangeran Sejati, dan berkuasa menitahkan sesuatu, menjadi ada dengan seketika karena kehendak dan takdir-Ku, disitu kenyataan tergelarnya kehendak dan titah (pakarti)-Ku yang menjadi pertandanya :
    Yang pertama, Aku berada di alam kehampaan (awang-uwung) yang tiada awal dan tiada akhir, yaitu alam-Ku yang masih tersembunyi.
    Yang kedua, Aku mengadakan cahaya sebagai penuksmaan-Ku berada di alam keberadaan-Ku.
    Ketiga, Aku mengadakan bayangan sebagai panuksma dan rahsa-Ku, berada di alam terjadinya benih.
    Keempat, Aku mengadakan suksma (ruh) sebagai tanda kehidupan-Ku, berada di alam herah (jaringan sel).
    Kelima, Aku mengadakan angan-angan yang juga sebagai warna-Ku berada di alam yang baru bisa diumpamakan.
    Keenam, Aku mengadakan budi (gerak) yang menjadi kenyataan berpencarnya angan-angan yang berada di dalam alam badan halus (rohani).
    Ketujuh, Aku menggelar tabir (hijab) yang sebagai tempat persemayaman-Ku. Tersebut enam perkara diatas tadi tertitahkan di dunia, yaitu Sejatinya Manusia.

    Semua “titah dumadi” memiliki kewajiban sebagaimana makna diciptakan. Manusia diciptakan Tuhan dan ditempatkan di planet bumi (bawana/buwana, jw.), maka kewajibannya memayu hayuning bawana (memelihara keselarasan bumi).

    BalasHapus
  3. WIRID WOLUNG PANGKAT #2

    Mitologi Jawa (Kejawen) memberikan suatu tuntunan untuk memahami jatidiri manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya dibanding titah dumadi yang lain. Ketinggian derajat tersebut berkaitan dengan operasionalnya Dzat Urip (Kesejatian Hidup) sebagai derivate Dzat Tuhan dalam diri manusia. Artinya, pada manusia diberikan suatu kesadaran akal, rasa dan spirituil untuk lebih memahami dirinya
    sebagai titah mulia (dalam Islam disebut kalifah Tuhan di muka bumi). Untuk itu mari kita renungkan wejangan ketiga “Wirid 8 pangkat Kejawen” :

    Wejangan gegelaran kahananing Pangeran :
    Sajatining manungsa iku rahsaning-Sun, lan Ingsun iki rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake wiji kang cacamboran dadi saka karsa lan panguwasaning-Sun, yaiku sasamaning geni bumi angin lan banyu, Ingsun panjingi limang prakara, yaiku : cahya, cipta, suksma (nyawa), angen-angen lan budi. Iku kang minangka embanan panuksmaning-Sun sumarambah ana ing dalem badaning manungsa.

    Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
    Ajaran pemahaman tergelarnya keadaan Pangeran :
    Sesungguhnya manusia itu rahsa-Ku dan Aku ini rahsanya manusia, karena Aku menitahkan benih cacamboran (campuran berbagai unsur) yang terjadi karena kehendak
    dan kuasa-Ku, yaitu berasal dari api tanah angin dan air, Aku resapi lima perkara, yaitu : cahaya, cipta, suksma (nyawa), angan-angan dan budi (gerak). Itulah yang menjadi cangkok (embanan) merasuknya suksma-Ku rata menyeluruh dalam badannya manusia.
    Lebih mendalam lagi penjelasan tentang “purba wasesa” (kekuasaan mutlak) Tuhan melalui “derivate”-nya (Dzat Urip) dalam diri manusia sebagaimana disebutkan dalam wejangan keempat, lima, dan enam dari “Wirid 8 pangkat Kejawen” sebagai berikut :

    Wejangan keempat :
    Wejangan kayektening Pangeran amurba ciptane (nalare) manungsa : Sajatine Ingsun anata palenggahan parameyaning-Sun (baitul makmur) dumunung ana ing sirahing manungsa, kang ana sajroning sirah iku utek, kang gegandhengan ana ing antarane utek iku manik (telenging netra aran pramana), sajroning manik iku cipta (nalar), sajroning cipta iku budi, sajroning budi iku napsu (angen-angen), sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana Pangeran anging Ingsun, Sejatining Urip kang anglimputi sagunging kahanan.

    Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
    Ajaran kuasanya Pangeran pada akal (cipta, nalar) manusia : Sesungguhnya Aku telah mengatur tempat keramaian-Ku (baitul makmur) berada di dalam kepalanya manusia, yang ada di dalam kepala itu otak, yang berkaitan antara otak itu manik (pusat penglihatan/mata dinamakan pramana), di dalam manik itu akal, di dalam akal itu budi (gerak), di dalam budi itu nafsu (angan-angan), di dalam nafsu itu suksma, di dalam suksma itu rahsa, di dalam rahsa itu Aku. Tidak ada Pangeran kecuali Aku. Sejatinya Hidup yang meliputi seluruh swasana.

    Wejangan kelima :
    Wejangan kayektening Pangeran amurba rasa pangrasaning manungsa : Sajatine Ingsun anata palenggahan laranganing-Sun (baitul haram) dumunung ana dhadhaning manungsa, ing sajroning dhadha iku ati lan jantung, kang gegandhengan ing antarane ati lan jantung iku rasa pangrasa, ing sajroning rasa pangrasa iku budi, ing sajroning budi iku jinem (angen-angen, napsu), sajroning jinem iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana Pangeran anging Ingsun, Sejatining Urip kang anglimputi saguning kahanan.

    Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

    BalasHapus
  4. Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
    Ajaran kuasa Pangeran pada perasaannya manusia :
    Sesungguhnya Aku telah mengatur tempat larangan-Ku (baitul haram) berada di dadanya manusia, di dalam dada itu hati dan jantung, yang berkaitan di antara hati dan jantung itu rasa perasaan, di dalam rasa perasaan itu budi (gerak), di dalam budi itu jinem (angan-angan, nafsu), di dalam jinem itu suksma, di dalam suksma itu rahsa, di dalam rahsa itu Aku. Tidak ada Pangeran kecuali Aku, Sejatinya Hidup yang meliputi seluruh swasana.

    Wejangan keenam :
    Wejangan kayektening Pangeran amurba tuwuhing wiji uripe manungsa: Sajatine Ingsun anata palenggahan pasucianing-Sun (baitul kudus) kang dumunung ana kontholing (wadon : baganing) manungsa, kang ana ing sajroning konthol (wadon : baga) iku pringsilan (wadon : purana), kang ana ing antaraning pringsilan (wadon : purana) iku mani (wadon : reta), sajroning mani (wadon : reta) iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana Pangeran anging Ingsun, Sajatining Urip kang anglimputi saliring tumitah, jumeneng dadi wiji kang piningit, tumurun mahanani sesotya kang dhingin kahanan kabeh maksih dumunung ana alaming wiji, laju manggon ana alam pambabaring wiji, laju tumurun ana alaming suksma (iya iku rah), laju tumurun ana ing alam kang durung
    kahanan (alam kang ingaran upama), laju tumurun marang alam donya (alaming manungsa urip), iya iku sajatine warnaning-Sun.

    Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
    Ajaran kuasa Pangeran pada terjadinya benih kehidupan manusia :
    Sesungguhnya Aku telah mengatur tempat kesucian-Ku (baitul kudus) yang berada di dalam konthol manusia laki-laki (perempuan : baga), yang ada di dalam konthol (perempuan : baga) itu buah pelir (perempuan : purana = indung telur), yang ada di antara buah pelir (perempuan : indung telur) itu mani/sperma (perempuan : reta = sel telur), di dalam mani (perempuan : sel telur) itu madi. Di dalam madi itu wadi, di dalam wadi itu manikem, di dalam manikem itu rahsa, di dalam rahsa itu Aku. Tidak ada Pangeran kecuali Aku, Sejatinya Hidup yang meliputi seluruh titah, berujud benih yang tersembunyi (piningit), turun menjadikan permata (sesotya) yang awal semua suasana masih berada di alam benih, terus bersemayam di alam terjadinya benih, terus turun di alam suksma (yaitu jaringan sel hidup), terus turun di alam yang belum berujud (alam yang disebut upama), terus turun di alam dunia (alamnya manusia hidup), yaitu sesungguhnya warna-Ku.

    BalasHapus
  5. Wirid wolung Pangkat #3

    Renungan kita lanjutkan pada Wejangan ke tujuh dari “Wirid Wolung Pangkat” berikut :

    7. Wejangan panetepan santosaning pangandel :
    yaiku bubuka-ning kawruh manunggaling kawula-gusti sing amangsit pikukuh anggone bisa angandel (yakin) menawa urip kita pribadi kayektene rinasuk dening dzate Pangeran (Dzat Urip, Sejatining Urip). Pangeran iku ya jumenenge urip kita pribadi sing sejati. Roroning atunggal, sing sinebut ya sing anebut. Dene pangertene utusan iku cahya kita pribadi, karana cahya kita iku dadi panengeraning Pangeran. Dununge mangkene : “Sayekti temen kabeh tumeka marang sira utusaning Pangeran metu saka awakira, mungguh utusan iku nyembadani barang saciptanira, yen angandel yekti antuk sih pangapuraning Pangeran”. Menawa bisa nampa pituduh sing mangkene diarah awas ing panggalih, ya urip kita pribadi iki jumenenging nugraha lan kanugrahan. Nugraha iku gusti, kanugrahan iku kawula. Tunggal tanpa wangenan ana ing badan kita pribadi.

    Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
    7. Ajaran pemantapan keyakinan :
    yaitu pembukanya kawruh (ilmu) “Manunggaling kawula-gusti” yang memberikan wangsit (petunjuk) keteguhan untuk bisa yakin bahwa hidup kita pribadi sesungguhnya dirasuki Dzatnya Pangeran (Dzat Urip, Sejatining Urip). Pangeran itu bertahtanya pada hidup kita yang sejati. Dwitunggal (roroning atunggal) yang disebut dan yang menyebut. Sedangkan pengertian utusan itu cahaya hidup kita pribadi, karena cahaya hidup kita itu menjadi pertanda adanya Pangeran. Maksudnya : “Sesungguhnya nyata semua datang kepada kamu utusan Pangeran (memancar) keluar dari dirimu sendiri. Sebenarnya utusan itu mencukupi semua yang kamu inginkan, kalau percaya pasti mendapatkan pengampunan dari Pangeran”. Bila bisa menerima petunjuk yang seperti ini supaya awas dan hati-hati, ya hidup kita ini bertahtanya nugraha dan anugerah. Nugraha itu gusti (tuan) sedang anugerah itu kawula (abdi). Bersatu tanpa batas pemisah dalam badan kita sendiri.

    Wejangan ketujuh ini menjelaskan bahwa konsep Jawa tentang adanya utusan Tuhan berbeda dengan yang diajarkan agama-agama. Dalam konsep keber-Tuhan-an Jawa, sebagaimana diajarkan “Wirid wolung Pangkat”, menyatakan bahwa yang disebut “utusan Tuhan” adalah “kesejatian hidup” manusia sendiri. Yaitu “Dzat Urip” yang bertahta dan bersemayam dalam diri manusia.

    BalasHapus
  6. Selanjutnya kita renungkan wejangan ke delapan dari”Wirid Wolung Pangkat” sebagai berikut :
    8. Wejangan paseksen :
    yaiku wejangan jumenenge urip kita pribadi angakoni dadi warganing Pangeran kang sejati kinen aneksekake marang sanak sedulur kita, yaiku : bumi, langit, srengenge, rembulan, lintang, geni, angin, banyu, lan sakabehing dumadi kang gumelar ing jagad.

    Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
    8. Ajaran kesaksian :
    yaitu ajaran bertahtanya hidup kita pribadi mengakui jadi warganya (titahnya) Pangeran yang sejati, disuruh mempersaksikan kepada seluruh sanak saudara kita, yaitu : bumi, langit, matahari, bulan, bintang, api, angin, air, dan seluruh mahluk yang tergelar di jagad (alam semesta).

    Wejangan dalam “Wirid 8 pangkat Kejawen” merupakan suatu ajaran Kejawen tentang kejatidirian manusia sebagai titah Tuhan Yang Maha Kuasa serta hubungannya dengan alam semesta dan seluruh isinya. Maka wejangan tersebut bisa dijadikan pijakan untuk membangun kesadaran kosmisnya. Melalui kesadaran kosmis tersebut dicapai kesadaran ber-Tuhan yang paripurna menurut Jawa.

    “Wirid Wolung Pangkat” ini merupakan “wacana” yang digulirkan oleh para Pujangga Jawa di masa Kerajaan Surakarta (Mataram Kartosuro). Diantaranya tercantum dalam Serat Centhini (Suluk Tambanglaras), Serat Wirid Hidayat Jati (R.Ng. Ranggawarsito), dan Primbon Adammakna.

    Sistim keber-Tuhan-an Jawa merupakan bagian dari Tata Peradaban Jawa yang menjadi perhatian serius para Pujangga dalam rangka mengupayakan merebut kembali “kedaulatan spirituil” Jawa yang terpuruk sejak runtuhnya Majapahit. Oleh karena itu, oleh kalangan Islam, “wirid wolung pangkat” ini sering dinyatakan sebagai ajaran yang sesat.

    Yang menarik justru pengantar ajaran tersebut yang diwacanakan oleh para Pujangga. Konon dirangkum dari ajaran para Wali Sanga yang konon pula bertolak dari “Wejangan” Nabi Muhammad SAW kepada adik sepupu dan menantunya, Sayidina Ali.
    Boleh jadi “benar”, namun bisa juga merupakan suatu strategi para Pujangga Jawa yang berniat melakukan “rekonstruksi” sistim keber-Tuhan-an Jawa. Maka, marilah kita jadikan bahan untuk ber-”bawarasa” bersama.

    Bawarasa = menghayati,mempelajari dengan nalar dan rasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mempelajari KEJAWEN, bukan semata belajar ritual2 Jawa tetapi lebih pada belajar mengenai filsafat hidup (falsafah) ala Jawa.
      Sebagai manusia2 yang hidup (makan, minum, dan beraktivitas) di tanah Jawa, seharusnyalah setiap manusia itu tahu mengenai pandangan hidup tanah yang didiaminya. Artinya belajar KEJAWEN adalah suatu keharusan. Tetapi sayang karena bengkoknya pemahaman, KEJAWEN hanya dianggap sebagai ritual2 animisme dan dinamisme tinggalan manusia2 prasejarah. Bahkan oleh para penganut Agama2 Samawi telah dijadikan barang haram yang najis untuk disentuh, padahal merekalah ajaran2 import yang masuk dan menjajah Jawa.

      KEJAWEN telah ditinggalkan, dicoba untuk dilupakan, bahkan KEJAWEN telah dinistakan dan dihinakan sebagai haram jadah yang tidak boleh disentuh sama sekali. Pantaslah kalau sekarang ini banyak orang Jawa yang telah kehilangan kejawaannya (lali jawane) dan bahkan ada yang menolak menjadi Jawa sehingga menjadi perusak tanah Jawa (ora jawa). Tanah Jawa menjadi merana karena tatanannya telah dirusak dan porak porandakan oleh pemikiran2 bengkok dan sesat, yang ingin menjadikan Jawa hanya sebagai tanah, bukan Jawa sebagai suatu kesatuan kosmos, kesatuan dunia.

      Kawruh Kejawen merupakan filsafat hidup (falsafah) manusia Jawa.
      Saat ini diartikan berbeda oleh banyak orang, Kejawen dianggap sebagai suatu aliran kepercayaan., bahkan dianggap sebagai AGAMA JAWA.
      KEJAWEN mencakup ide dasar kehidupan, mengenai adanya Tuhan, Dunia dan isinya, Asal usul manusia, Manusia dan alam, dan Tuntutan untuk hidup. Bedanya, KEJAWEN tidak memiliki Kitab Suci seperti Agama2 yang ada.

      Filsafat Jawa berasal dari oleh rasa dan spiritual orang Jawa sejak dahulu kala. Tuhan (Gusti kang Murbeng Dumadi) telah menaruh benih spiritual pada masing2 manusia untuk setiap bangsa. Spiritualisme Jawa bermanfaat untuk hidup di tanah Jawa dan untuk membangun peradaban Jawa.
      Jawa merupakan wilayah tropis dengan gunung vulkanis yang beragam sehingga tanahnya subur dan keanekaragaman hayati yang cukup lengkap. Tetapi tanah Jawa juga rentan terhadap bencana alam, sehingga pengertian dan nilai2 hidup dibangun atas pemahaman tersebut.

      Jawa juga bersinergi (campur wayuh) dengan berbagai ajaran seperti Hindu, Buddha, dan Islam. Eksistensi Jawa susah dirunut karena semua bukti tertulis dan tercatat merupakan sinkritisme dengan Hindu, Buddha, dan Islam. Catatan asli tentang Jawa yang dapat dirunut adalah HARI PASARAN, WUKU, MANGSA, WINDU, dan TAUN serta DINA PARINGKELAN. Bukti kejawaan nampak dalam mahakarya MAHABHARATA dan RAMAYANA yang penuh dengan ide2 JAWA, termasuk silsilah raja2 yang berbeda dengan yang di India.

      Hapus
  7. Masuknya Islam menambah kasanah filsafat Jawa dalam bentuk Layang, Suluk, dan Serat Kapunjangan. Berisi ajaran2 Tasawuf Islam yang kaya dengan unsur konseptualisme Jawa. Contohnya adalah sejarah nabi2 Islam yang bercampur dengan dewa2. Cerita Kakimpoi Serat Kapunjangan merupakan penyikapan Jawa terhadap masuknya ‘ agama baru’ dari luar Jawa. Jawa sangat pluralistis dan siap hidup dengan perbedaan agama dan kepercayaan. Bukannya dikooptasi, tetapi Jawa menjadi warna baru dari tiap2 agama impor yang masuk ke tanah Jawa.

    Jawa memiliki bukti kehidupan, baik berupa fosil maupun artefak dari ribuan tahun yang lalu, tetapi Jawa juga penuh dengan artefak yang berbau agama impor. Hal ini membuktikan bahwa Jawa adalah tempat yang nyaman untuk berkehidupan dan perkembangan budaya dan peradaban.

    Dasar2 Filsafat Jawa
    1. Kesadaran Religius
    Keimanan dan kepercayaan kepada sesembahan (Tuhan Semesta Alam) yang mendasari munculnya sistem religi dan ritual penyembahan.

    2. Kesadaran Kosmis
    Menggambarkan hubungan manusia dengan alam semesta dan isinya. Menciltakan ritual sesaji dengan falsafah “sakabehing kang ana manunggal kang kapurbalan kawasesa dening Kang Murbeng Dumadi”.

    3. Kesadaran Peradaban
    Pemahaman mengenai hubungan manusia dengan manusia.
    Berwujud ajaran:
    • Memayu hayuning pribadi,
    • Memayu hayuning kaluwarga,
    • Memayu hayuning bebrayan,
    • Memayu hayuning Negara,
    • Memayu hayuning bawana.

    Menurut Prof. Dr. Branders (1889), manusia Jawa telah memiliki 10 dasar kehidupan asli yang ada sebelum masuknya agama2 impor, yaitu:
    (1) Pertanian, sawah, dan irigasi, (2) pelayaran, (3) perbintangan, (4) wayang, (5) gamelan, (6) batik, (7) metrum, (8) cor logam, (9) mata uang, dan (10) system pemerintahan.
    Budaya2 tersebut ada sejak Jawa kuno dan merupakan kedaulatan spiritual Jawa, filsafat yang digunakan untuk hidup di tanah Jawa, filsafat hidup lengkap di Jawa.

    Kesempurnaan, Kesatuan, dan Keutamaan
    1. Kesadaran Religius
    Iman adanya Tuhan (sesembahan) yang memunculkan ritual penyembahan.
    Sembah Raga, Jiwa, dan Sukma, yang mencakup semua daya hidup berupa cipta, rasa, karsa, dan daya spiritual. Bertentuk Tapa Brata(Durung wenangamemuja lamun during tapa brata).
    Terdiri dari 5 bentuk:
    1) Mengurangi makan dan minum (anerima),
    2) Mengurangi keinginan hati (eling),
    3) Mengurangi nafsu birahi (tata susila),
    4) Mengurangi nafsu amarah (sabar), dan
    5) Mengurangi berkata2 atau bercakap2 yang sia2 (sumarah).
    Tapa Brata bukan tata cara penyembahan seperti pada agama impor tetapi hanya sarana untuk menata kekuatan hidup (dayaning urip). Tapa Brata merupakan sifat totalitas menjalani hidup yang benar dan baik menuju kesempurnaan. Hidup yang sempurna (sukma) akan bersatu dengan Sang Sempurna (Guruning Ngadadi). Ilmu Kesempurnaan (Kawruh Kasampurnan)

    BalasHapus
  8. 2. Kesadasaran Kosmis
    Hubungan manusia dan alam semesta, semua yang ada di semesta adalah satu (manunggal) yang ada berasal dari Sang Pencipta (Sukma Kawekas, Sah Hyang Wisesaning Tunggal, Sanghyang Wenang). Mendasari pengetahuan kesatuan, berupa hubungan kosmis-magis manusia dan alam seisinya.
    Bentuk2 ajarannya adalah :
    1) Bersatunya alam kecil (mikrokosmos) dengan alam besar (makrokosmos)
    Alam dan seisinya, termasuk manusia adalah satu kesatuan.

    2) Bapa Angkasa dan Ibu Bumi
    Manusia dibangun dari unsur cahaya (cahya lan teja) dan unsur bumi (bumi, banyu, geni, lan angin utowo hawa).

    3) Kakang Kawah Adi Ari2
    Kelahiran berupa makhluk (Sabda Tuhan) yang tampak maupun tidak tampak. Kesadaran kesatuan akan semesta menjadikan manusia JAWA memiliki ritual SLAMETAN dan SESAJi (caos dahar). Sebagai contoh adalah SLAMETAN BROKOHAN.

    Pengetahuan mengenai kesatuan disebut dengan persatuan manusia dan Tuhan (manunggaling kawula lan Gusti). Merupakan puncak filsafat Jawa.

    3. Kesadaran Peradaban
    Berupa hubungan manusia dengan sesama manusia.
    Manusia sebagai makhluk utama haru berhubungan dengan sesame manusia dalam keutamaan (beradab). Mewujudkan kesadasaran berintergrasi apalagi dalam bernegara. Konsep “tata tentrem kerta raharja” menjadi tujuan utama. Sebagai konsep bermasyarakat dan bernegara.

    Pengetahuan keutamaan merupakan ajaran untuk menciptakan dunia yang indah (memayu hayuning bawana). Untuk menciptakan dunia yang indah dibutuhkan keutamaan budi pekerti, nilai kerukunan, dan keselarasan yang menjadi nilai utama.
    Sehingga, FILSAFAT JAWA (KEJAWEN) merupakan filsafat keutamaan, filsafat keselarasan, dan filsafat keberadaban untuk menciptakan hidup yang rukun, selaras, dan beradab yang berlandaskan budi pekerti dan spiritualitas yang luhur.

    BalasHapus
  9. Saya mau tanya OM? agama yang anda peluk sebenarnya aagma apa?

    BalasHapus
  10. Saya mau tanya OM? agama yang anda peluk sebenarnya aagma apa?

    BalasHapus
  11. Saya mau tanya OM? agama yang anda peluk sebenarnya aagma apa?

    BalasHapus
  12. Saya mau tanya OM? agama yang anda peluk sebenarnya aagma apa?

    BalasHapus
  13. Saya mau tanya OM? agama yang anda peluk sebenarnya aagma apa?

    BalasHapus
  14. Saya mau tanya OM? agama yang anda peluk sebenarnya aagma apa?

    BalasHapus